Peternakan

Peternakan
Pengembangan peternakan disamping sebagai upaya pemenuhan kebutuhan daging, susu dan telur bagi masyarakat, juga diharapkan mampu berperan sebagai daerah produsen dan pemasok hasil ternak bagi daerah lainnya.
Sektor peternakan juga memiliki kaitan erat dengan sektor pertanian dan perkebunan terutama dalam pengolahan lahan dan penyediaan pupuk kandang.
Wilayah Kabupaten Nabire yang memiliki lahan yang sangat luas merupakan potensi yang sangat memungkinkan untuk pengembangan sektor peternakan. Ketersediaan pakan ternak yang berasal dari tumbuh-tumbuhan terutama bagi ternak mamalia sangat mencukupi dan pemasaran produksi peternakan terutama daging dan telur tidak mengalami hambatan, sehingga usaha disektor ini memiliki prospek yang baik.
Untuk mengetahui data populasi dan pemotongan ternak di Kabupaten Nabire hingga akhir tahun 2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

ptk 32

Berdasarkan tabel tersebut diatas nampak bahwa populasi ternak di Kabupaten Nabire rata-rata mengalami peningkatan, namun untuk ayam ras petelur baik tahun 2010 maupun 2011 populasinya tidak ada. Hal ini sebagai akibat dari stagnasi faktor produksi terutama pakan sehingga tidak ada peternak yang mengusahakan ayam ras.
Produksi peternakan (daging, susu dan telur) pada umumnya masih terbatas utuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Bahkan sebagian jumlah daging dan telur yang ada di pasaran berasal dari luar Nabire bahkan luar Papua. Kondisi ini menunjukkan bahwa produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging dan telur. Perkembangan produksi daging, telur dan susu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

ptk 33

Untuk mengetahui konsumsi masyarakat akan daging, telur dan susu sebagai sumber protein, dapat dilihat pada tabel berikut ini :

ptk 34

Dalam lalu lintas komoditi peternakan, Kabupaten Nabire juga berperan sebagai daerah transit terhadap masuk dan keluarnya beberapa komoditi peternakan.
Karena belum ada data riil tentang komoditi peternakan yang masuk dan keluar dari Kabupaten Nabire selama tahun 2011 maka kami masih menggunakan data 2010 yang adalah sebagai berikut :

ptk 35

Dari gambaran tersebut diatas nampak bahwa, Kabupaten Nabire belum dapat berperan sebagai pemasok komoditi ternak terhadap daerah lain baik di Papua maupun luar Papua.
Rendahnya produksi lokal yang belum mampu menjawab kebutuhan konsumen sangat mempengaruhi tingkat harga di pasaran. Tingkat harga akan berfluktuasi tergantung dari jumlah masuknya komoditi peternakan dari luar. Sebagai gambaran harga dari beberapa komoditi peternakan di Kabupaten Nabire tercantum pada tabel di bawah ini :

ptk 36

POTENSI DAN AGROEKOSISTEM

A. Luas dan Letak Wilayah
Kabupaten Nabire memiliki luas wilayah ± 6.861,56 Km2. Terdiri dari 14 distrik yaitu distrik Uwapa, Menouw, Dipa, Yaur, Teluk Umar, Wanggar, Nabire Barat, Nabire, Teluk Kimi, Napan, Makimi, Wapoga, Siriwo dan Yaro. Letak geografis Kabupaten Nabire berada diantara 134035’, – 136033’ Bujur Timur dan 2025’ – 3056’ Lintang Selatan dan terletak dikawasan teluk cendrawasih (Bagian Tengah) Provinsi Papua.
Kabupaten Nabire memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
 Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Yapen
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Waropen dan Dogiyai
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Mimika
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Teluk Wandama

Kawasan ini mempunyai posisi yang sangat strategis bagi lalu lintas perdagangan dan transportasi baik lewat laut, udara maupun darat, antar pulau dan antar Kabupaten yang ada diwilayah provinsi Papua khususnya diwilayah Provinsi papua bagian Tengah. Kabupaten Nabire merupakan pintu gerbang bagi kegiatan mobilitas perdagangan dan pembangunan bagi Kabupaten di daerah pedalaman/pegunungan tengah yaitu Kabupaten Dogiyai, Deiyai, paniai, Intan Jaya, Puncak Jaya dan Puncak serta merupakan salah satu Kabupaten yang berada dikawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET) Biak.

B. Topografi dan Keadaan Tanah
Keadaan topografi Kabupaten Nabire sangat bervariasi mulai dari datar bergelombang, berbukit dan bergunung. Wilayah datar ± 47% dari luas wilayah Kabupaten Nabire yang terhampar disepanjang wilayah pantai sedangkan wilayah perbukitan ± 53% yang sebagian besar meliputi wilayah pedalaman.
Berdasarkan perbedaan geomorfosisnya, wilayah Kabupaten Nabire dapat dikelompokkan menjadi 3 zona agroekosistem yaitu :
 Zone dataran rendah dengan ketinggian < 600 m diatas permukaan laut  Zone Ketiggian sedang 600 – 1500 m di atas permukaan laut  Zone dataran tinggi yaitu > 1500 m di atas permukaan laut. Jenis tanah di wilayah ini antara lain podzolik merah, hidromorf kelabu, podzolik coklat, regosol, aluvial dan land humick clay.

C. Iklim dan Cuaca
Wilayah Kabupaten Nabire beriklim tropis basah dengan curah hujan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 484,60 mm dan hampir merata sepanjang tahun. Temperatur rata-rata daerah pantai berkisar antara 24-300C sedangkan dipedalaman pada umumnya berada secara gradual menurut ketinggian yaitu rata-rata turun 0,50C untuk setiap kenaikan ketinggian 100 meter dari permukaan laut. Variasi temperatur antara musim hujan dan musim kemarau relatif kecil.

D. Vegetasi
Sebagian besar lahan di Kabupaten Nabire merupakan hutan primer yang didominasi oleh hutan hujan tropis dengan jenis vegetasi antara lain intensia, bijuga, jenis-jenis palmac, Pandanus sp, Rotan, Myrtaccae serta terdapat pula jenis rumput varietas lokal. Disamping itu telah di introdusir beberapa jenis rumput varietas unggul dan jenis-jenis leguminosa seperti Brachiaria mutica, Colopogonium stylosantes, Centrocema pubescens, Serbania gradiflora (Turi), Digitaria decumbens (Rumput Gajah). Penyebaran jenis-jenis rumput dan leguminosa ini telah menyebar ke semua lahan tidur (lahan yang telah dibuka tetapi belum dimanfaatkan) terutama lahan-lahan yang dialokasikan sebagai lahan transmigrasi maupun kawasan pemukiman sosial serta pemukiman umum yang sampai sekarang ± 200.000 Ha yang meliputi 5 wilayah distrik yaitu Distrik Napan, Nabire, Wanggar, Yaur, Uwapa dan Distrik Kamu. Disamping itu juga tersebar disekitar pinggir jalan yang ada di Kabupaten Nabire.

E. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Nabire menurut data statistik tahun 2010 sebanyak 129.893 jiwa dengan kepadatan penduduk ± 18,93 jiwa/Km2 diperkotaan dan ± 1,51 jiwa/km2 dipedesaan dengan rasio jenis kelamin 114,61. Sementara laju pertambahan penduduk sebesar 3,9% per tahun. Jumlah dan luas wilayah menurut distrik adalah sebagai berikut :
1. Distrik Teluk Umar 882 jiwa, Luas Wilayah 994,13 Km2
2. Distrik Nabire 74.197 jiwa, Luas Wilayah 626,19 Km2
3. Distrik Nabire Barat 10.701 jiwa, Luas Wilayah 199,19 Km2
4. Distrik Teluk Kimi 8.987 jiwa, Luas Wilayah 231,19 Km2
5. Distrik Makimi 5.362 jiwa, Luas Wilayah 391,55 Km2
6. Distrik Wapoga 981 jiwa, Luas Wilayah 375,00 Km2
7. Distrik Siriwo 4.653 jiwa, Luas Wilayah 773,60 Km2
8. Distrik Napan 2.356 jiwa, Luas Wilayah 1.461,13Km2
9. Distrik Wanggar 7.177 jiwa, Luas Wilayah 204,86 Km2
10. Distrik Yaro 3.193 jiwa, Luas Wilayah 521,42 Km2
11. Distrik Yaur 1.343 jiwa, Luas Wilayah 521,00 Km2
12. Distrik Uwapa 3.272 jiwa, Luas Wilayah 231,20 Km2
13. Distrik Menouw 2.896 jiwa, Luas Wilayah 161,28 Km2
14. Distrik Dipa 3.893 jiwa, Luas Wilayah 169,82 Km2

Seperti diketahui bahwa sebagian besar yakni 81% penduduk Kabupaten Nabire bertempat tinggal di Pedesaan dan Pedalaman serta bermata pencaharian sebagai petani-nelayan. Sedangkan yang 19% bertempat tinggal di Perkotaan dan bermata pencaharian sebagai buruh, pedagang dan pegawai (PNS, TNI/POLRI).
Sedangkan apabila dilihat dari tingkat pendidikannya maka pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja selama penduduk yang berstatus sekolah/pelajar adalah sebagai berikut :
 Tamat SD : 75 jiwa
 Tamat SLTP Umum : 22 jiwa
 Tamat SLTP kejuruan : – jiwa
 Tamat SLTA Umum : 1.561 jiwa
 Tamat SLTA Kejuruan : 438 jiwa
 Tamat D1, D2 dan D3 : 358 jiwa
 Tamat S1 dan S2 : 636 jiwa
Tingkat pendidikan mencerminkan kualitas Sumber Daya Manusia yang secara tidak langsung mempengaruhi kesejahteraannya.

F. Infrastruktur, Sarana dan Prasarana
Keadaan infrastruktur khususnya aksessibilitas semakin luas jangkauannya, jalan-jalan tembus untuk menerobos isolasi daerah yang menghubungkan antara distrik diseluruh wilayah Kabupaten Nabire sudah terselesaikan. Disamping itu ruas jalan antar Kabupaten antara lain menuju Kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Paniai, Puncak Jaya, Yapen Waropen dan Manokwari terus diupayakan penyelesaiannya. Pengembangan infrastruktur, sarana dan prasarana dalam rangka mendukung kegiatan perekonomian daerah dan pembangunan akan terus ditingkatkan dimasa-masa yang akan datang.

G. Potensi Pengembangan Ternak Sapi
1. Aspek Ketersediaan Pakan
Potensi ketersediaan pakan di Kabupaten Nabire sangat mendukung untuk pengembangan ternak ruminansia termasuk ternak sapi. Hal ini dapat dilihat dari luas lahan maupun vegetasi jenis hijauan pakan ternak yang ada seperti jenis rumput varietas unggul dan jenis leguminosa yang telah tersebar di Kabupaten Nabire yang dapat hidup dan berproduksi sepanjang tahun serta dari hasil limbah Pertanian tanaman pangan maupun hijauan atau dedaunan atau rambanan atau browese yang selama ini belum dimanfaatkan dan terbuang percuma. Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Proyek Penggemukan Sapi Potong di Nabire yang disusun oleh Badan Koordinasi Penanaman modal Provinsi Daerah Tingkat I Papua tahun 1992 maka dapat disampaikan bahwa Daya Dukung Lahan dan Kapasitas Tampung untuk Kabupaten Nabire sebanyak 46.767 AU, sementara populasi ternak yang ada sekarang sekitar 13.473 AU dan masih kekurangan 33.330 AU. Bila kekurangan ini dialokasikan untuk pengembangan sapi maka untuk mencapai kapasitas tampung tersebut dibutuhkan sapi 66.660 ekor sapi dengan berat 225 kg/ekor (berat rata-rata sapi di Nabire). Sedangkan menurut data yang disampaikan dalam buku Mengenal Nabire melalui Data Informasi tahun 2004 oleh Kantor Pengolahan Data Elektronik potensi lahan pengembangan pertanian dalam arti luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan) sekitar 810.427 Ha. Dari potensi ini yang dimanfaatkan untuk pengembangan lahan pertanian tanaman pangan baru sekitar 18.109 Ha. Dari sisa potensi lahan inipun maka sapi masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan populasi dana produksinya karena kalaupun lahan pertanian ini sebagian besar (sesuai dengan prioritas penggunaan lahan) dialokasikan ke pertanian pangan limbahnya masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan sapi.
Disamping itu pula dalam mendukung dan mewujudkan usaha peternakan sapi yang intensif, maju dan produktif, Dinas Peternakan sejak tahun 2008 telah melaksanakan program kegiatan perluasan areal kebun HMT hingga tahun 2010 seluas 160 Ha yang bersumber dari dana DIPA APBN dan sumber dana DAK. Dari luasan tersebut dapat menjamin ketersediaan pakan bagi ternak sapi sebanyak 1600-3000 ekor per tahun.

Leave a Comment

*

code