NABIREKAB.GO.ID – Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos., M.Si., meresmikan dua gedung gereja, yakni Gedung Gereja GKII Jemaat Eklesia Tugomani dan Gereja GKII Betel Diyaikunu, pada Jumat, 27 Maret 2026. Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Bupati juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Katolik Santo Petrus Ugida yang berada dalam wilayah Paroki Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani, Dekenat Kamapi, Keuskupan Timika.
Kegiatan ini menjadi momen penting bagi masyarakat di Distrik Siriwo, yang merupakan wilayah perbatasan antara Kabupaten Nabire dan Kabupaten Dogiyai. Tiga lokasi kegiatan—Tugomani, Diyaikunu, dan Ugida—merupakan kampung-kampung terluar Kabupaten Nabire yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur, termasuk akses listrik dan sarana ibadah yang representatif.
Wilayah Perbatasan yang Strategis dan Terpencil
Distrik Siriwo memiliki posisi geografis yang unik sekaligus strategis. Kampung Tugomani terletak sekitar Kilometer 171 dari pusat Kabupaten Nabire dan berada tepat di garis batas administratif antara Nabire dan Dogiyai. Sementara itu, kampung Ugida dan Diyaikunu berada tidak jauh dari Tugomani dan dikenal sebagai wilayah ujung yang berbatasan langsung dengan daerah lain.
Kondisi geografis tersebut menjadikan pembangunan infrastruktur, termasuk rumah ibadah, sebagai tantangan tersendiri. Namun di sisi lain, wilayah ini juga menjadi simbol kehadiran negara di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Peresmian Dihadiri Ribuan Jemaat dan Pejabat Daerah
Peresmian dua gedung gereja GKII tersebut dipusatkan dalam satu ibadah pentahbisan yang dilaksanakan di Gedung Gereja GKII Betel Diyaikunu. Ribuan jemaat dari berbagai wilayah turut hadir dalam kegiatan ini, mencerminkan antusiasme dan semangat kebersamaan umat.

Selain masyarakat, kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan perangkat daerah Kabupaten Nabire, anggota DPRK, tokoh agama, serta berbagai unsur pemerintah dan masyarakat lainnya. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan dukungan luas terhadap pembangunan sarana keagamaan di wilayah tersebut.
Komitmen Pemerintah Daerah terhadap Pembangunan Gereja
Dalam sambutannya di Diyaikunu, Bupati Mesak Magai menegaskan bahwa pembangunan kedua gereja tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kehidupan keagamaan masyarakat. Ia menyebutkan bahwa selama tiga tahun masa kepemimpinannya, terdapat 38 gereja yang telah mendapat dukungan pembangunan dari pemerintah daerah.
Menurut Bupati, dukungan tersebut bersumber dari kebijakan khusus berupa alokasi “persepuluhan” dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nabire.
“Rakyat memilih saya sehingga saya mendapatkan mandat dari negara untuk mengelola uang negara. Dalam pengelolaannya, saya menetapkan persepuluhan dari APBD Nabire untuk mendukung pembangunan gereja sebagai sarana pembinaan iman dan karakter,” ujar Mesak Magai.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Gedung Gereja GKII Jemaat Eklesia Tugomani dan GKII Betel Diyaikunu sepenuhnya dibiayai oleh APBD Kabupaten Nabire. Dengan demikian, gereja-gereja tersebut pada hakikatnya dibangun oleh seluruh masyarakat Kabupaten Nabire melalui kontribusi anggaran daerah.
Rangkaian Peresmian Berlanjut ke Tugomani
Setelah meresmikan Gedung Gereja GKII Betel Diyaikunu, Bupati bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Tugomani untuk meresmikan Gedung Gereja GKII Jemaat Eklesia.
Peresmian di Tugomani memiliki makna yang lebih luas karena dirangkaikan dengan momen bersejarah, yakni masuknya listrik untuk pertama kalinya ke wilayah tersebut. Kehadiran listrik menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk dalam mendukung aktivitas ibadah, pendidikan, dan ekonomi.
Masuknya Listrik sebagai Simbol Perubahan
Penyambungan listrik di Tugomani dilakukan oleh Unit Layanan Pelanggan Dogiyai, yang merupakan unit operasional terdepan PLN dalam melayani masyarakat. Secara struktural, Unit Layanan Pelanggan Dogiyai berada di bawah Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Nabire dalam koordinasi Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem kelistrikan di wilayah tersebut masih terintegrasi dengan pusat pengelolaan di Nabire, sehingga pelayanan listrik di Dogiyai dan sekitarnya tetap berada dalam kendali operasional yang lebih luas.

Dalam sambutannya, Bupati Mesak menyampaikan apresiasi kepada PLN atas upaya menghadirkan listrik di wilayah perbatasan tersebut.
“Dulu anak-anak Siriwo punya organisasi pelajar dan kepemudaan dengan nama ‘Siriwo Terang’. Maksudnya dalam konteks pendidikan, tetapi dengan kehadiran PLN ini, semoga Siriwo benar-benar menjadi terang dalam konteks penerangan,” ungkapnya.
Pernyataan ini menggambarkan harapan bahwa kehadiran listrik tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga membawa perubahan sosial dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Makna Teologis “Eklesia” dan Panggilan Iman
Dalam kesempatan yang sama di Tugomani, Bupati juga mengulas makna nama “Eklesia” yang disematkan pada gereja tersebut. Ia menjelaskan bahwa istilah “Eklesia” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ek” yang berarti keluar dan “kaleo” yang berarti memanggil.
Dengan demikian, “Eklesia” dimaknai sebagai kumpulan orang yang dipanggil keluar—yakni orang-orang percaya yang dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi umat Allah.
Ia menegaskan bahwa dalam pemahaman Alkitab, gereja bukan sekadar bangunan fisik, melainkan persekutuan orang percaya yang hidup dalam iman, bersekutu, dan menjadi terang bagi dunia.
Peletakan Batu Pertama Gereja Katolik di Ugida
Selain meresmikan dua gereja GKII, Bupati juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Katolik Santo Petrus Ugida. Gereja ini berada dalam lingkup pelayanan Paroki Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani, Dekenat Kamapi, Keuskupan Timika.
Peletakan batu pertama ini menandai dimulainya pembangunan sarana ibadah baru bagi umat Katolik di wilayah tersebut. Hal ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung keberagaman dan kehidupan keagamaan lintas denominasi.
Kotbah: Kepemimpinan, Mandat, dan Tanggung Jawab
Ibadah pentahbisan dan peresmian dipimpin oleh Kepala Biro Pendidikan Wilayah GKII, Pendeta Geraldus Bunai, S.Th., M.Th. Dalam kotbahnya, ia mengangkat kisah pembangunan Bait Allah oleh Raja Salomo sebagai refleksi teologis atas peristiwa yang terjadi.
Ia menjelaskan bahwa Salomo membangun Bait Allah dengan hikmat dan tanggung jawab sebagai pemimpin yang menerima mandat dari Allah. Dalam proses tersebut, Salomo mengerahkan seluruh sumber daya bangsa untuk membangun tempat ibadah yang memuliakan Tuhan dan membentuk kehidupan rohani umat.

Pendeta Geraldus kemudian mengaitkan prinsip tersebut dengan kepemimpinan Bupati Mesak Magai saat ini. Ia menyatakan bahwa mandat dari rakyat yang diterima oleh seorang pemimpin seharusnya digunakan untuk mengelola sumber daya publik secara bertanggung jawab, termasuk dalam mendukung pembangunan sarana keagamaan.
Menurutnya, alokasi anggaran untuk pembangunan gereja bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi juga memiliki dimensi spiritual, yakni sebagai upaya membangun iman dan karakter masyarakat.
Doa dan Dukungan bagi Kepemimpinan
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para pendeta yang hadir melakukan penumpangan tangan kepada Bupati Mesak Magai. Mereka mendoakan kesehatan, kekuatan, dan hikmat bagi kepemimpinannya ke depan.

Doa tersebut menjadi simbol dukungan rohani dari para pemimpin gereja terhadap pemerintah daerah, sekaligus menegaskan hubungan yang erat antara pembangunan fisik dan pembangunan spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Pembangunan Gereja sebagai Investasi Sosial
Peresmian dua gereja dan peletakan batu pertama gereja ketiga di wilayah perbatasan ini menunjukkan bahwa pembangunan sarana ibadah memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral, pendidikan nonformal, dan penguatan komunitas.
Dalam konteks wilayah seperti Distrik Siriwo, kehadiran gereja yang layak serta akses listrik menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia secara utuh.
Peneguhan Kehadiran Negara di Wilayah Terluar
Rangkaian kegiatan ini juga dapat dipandang sebagai bentuk peneguhan kehadiran negara di wilayah perbatasan. Melalui pembangunan gereja, penyediaan listrik, dan keterlibatan langsung pemerintah daerah, masyarakat di wilayah terluar merasakan perhatian dan pelayanan yang nyata. Peresmian ini bagian dari proses panjang pembangunan yang menyentuh aspek spiritual, sosial, dan infrastruktur sekaligus. ***
