Perayaan Hari Nyepi Kabupaten Nabire Merupakan Momen Sakral Bagi Umat Hindu

nabirekab.go.id,- Dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi 2019, Tahun Baru Saka 1941, yang dirayakan pada hari Kamis, (07/03), bagi umat Hindu, merupakan momen sakral yang sangat di tunggu-tunggu oleh umat beragama Hindu setiap tahunnya. Di mana hari raya Nyepi sebenarnya merupakan tahun baru Hindu berdasarkan penanggalan kalender Cakra yang di mulai semenjak tahun 78 Masehi. Tujuan utama hari raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan Buanaalif yaitu alam manusia dan Buana Agung atau alam semesta.

Demikian juga halnya dengan umat Hindu yang ada di Kabupaten Nabire, juga turut serta merayakan Perayaan Hari Raya Nyepi di tahun ini, rangkaian acara dalam rangka hari Nyepi Tahun Baru saka 1941 di Nabire, telah dimulai sejak tanggal 05 Maret  hingga tanggal 08 Maret 2019. Dengan dimulai dengan menggelar kerja bhakti yang dipusatkan di Pura Puja Dewata SP.1. Distrik Nabire barat, dan dilanjutkan dengan kegiatan Metanding banten yang adalah sarana persembahyangan di Pura berupa bunga atau yang disebut oleh umat Hindu sebagai Canang, buah-buahan dan kue jajanan, dan dilanjutkan dengan membuat Caru atau korban suci serta membuat sanan pikulan atau alat untuk mengangkat Ogoh-Ogoh.

Pelaksanaan Festifal Ogoh-Ogoh dilaksanakan pada hari Rabu (06/03),  dimulai dari depan Kantor Distrik Kota dan berakhir sampai di taman Gizi Oyehe dan dilanjutkan dengan pembakaran ogoh-ogoh di halaman Pura Puja Dewata SP.1 Distrik Nabire Barat. Dikatakan Pemangku Umat Hindu Kabupaten Nabire I Nyoman Dhana mengatakan “Rangkaian perayaan hari raya Nyepi akan mencapai puncaknya pada hari raya Nyepi 07 Maret 2019 dimana umat Hindu Kabupaten Nabire melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari  Amati Geni yaitu tiada berapi-api atau tidak menggunakan dan atau tidak menghidupkan api. Geni yang dimaksud disini adalah  : Hawa nafsu, geni ini juga disebut dengan panas oleh karena itu amati geni ini harus dilaksankan oleh umat Hindu selama 24 jam melalui brate puasa, kalau dialam kenyataan masyarakat harus  mengurangi menyalakan lampu atau listrik, Amati Karya atau tidak bekerja, amati karya itu selama 24 jam sebelum matahari terbit  umat Hindu tidak boleh melaksanakan pekerjaan terutama pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan produktifitas yang menghasilkan atau tidak bekerja keras. Amati Lelungan atau tidak berpergian, Amati Lelungan ini adalah selama 24 jam umat Hindu tidak boleh melaksanakan perjalanan apalagi perjalanan jarak jauh.  dan Amati Lelanguan yaitu umat Hindu selama 24 jam tidak boleh mencari tontonan, tidah boleh mencari hiburan dan tidak boleh menghibur diri.

Dilanjutkan Jadi umat Hindu betul-betul selama 24 jam kegiatan Catur Brata Penyepian itu harus betul dilakukan secara khusus sehingga nanti secara  presepsi ritual, segala salah dosa umat Hindu  dapat diampuni oleh Tuhan yang maha Kuasa bisa mengampuni dan yang paling utama adalah kita mengintropeksi diri sehingga pada tahun yang kedepan ini betul-betul pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan Dharma Suci  Santi.

Rangkaian terakhir dari tahun baru Saka adalah hari Ngembak Geni  yang jatuh pada Pinggal Pingkali Sase Kedasa yang mana usai melakukan Nyepi umat Hindu melakukan Dharma Santi  dengan keluarga besar dan tetangga  dengan mengucap syukur dan saling memaaf-maafkan  satu sama lain untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat kaltualmasi yang memandang  bahwa semau manusia diseluruh penjuru bumi sebagai ciptaan hendaknnya saling menyayangi  satu sama lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan dan hidup di dalam kerukunan dan damai . (U.R)

Leave a Comment

*

code